Oleh: hanykpoespyta | Nopember 30, 2008

Alam Banjarmasin vs Alam Jepang

Setiap masyarakat pasti memiliki kebudayaan yang merupakan hasil karya dari sekumpulan orang-orang yang menetap di suatu daerah. Kebudayaan yang tercipta itu, merupakan respon terhadap keadaan alam suatu daerah dalam rangka mempertahankan hidup. Kebudayaan tercipta sebagai sarana yang akan mempermudah interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya. Kalau kita cermati lebih lanjut, ada satu kebudayaan Banjar –terkait dengan pemaparan sebelumnya– yang hampir tidak ditemui di daerah lain. Pada umumnya, kebudayaan yang dihasilkan oleh suatu daerah memilki perbedaan dengan kebudayaan dari daerah lain. Masyarakat Banjarmasin sangat erat kaitanya dengan sungai, karena daerahnya yang dikelilingi sungai, dari yang kecil sampai yang besar. Alhasil, di Banjarmasin banyak aktivitas manusia yang tidak bisa dilepaskan dari sungai, mulai dari aktivitas rumah tangga dari mencuci, mandi dan buang air. Hal yang juga tidak biasa yaitu banyaknya rumah yang berada di tepi hingga berada di atas sungai. Sampai-sampai berjualan pun dilakukan di sungai. Ya, pasar terapung. Pasar terapung merupakan suatu kebudayaan yang murni dan juga unik. Masyarakat daerah lain mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana cara orang Banjar melakukan transaksi jual-beli? Itu juga yang saya alami sebelumnya, sebelum melihat sendiri bagaimana cara mereka melakukan transaksi tersebut.

Pada masanya, sungai di Banjarmasin mengalami kejayaan. Sungai menjadi sarana transportasi yang sangat efektif untuk menghubungkan seluruh daerah Kalimantan Selatan. Peran sungai juga tidak bisa dipisahkan dari segala perubahan yang terjadi di Banjarmasin dan proses islamisasi masyarakat kota tercinta ini. Seperti yang tercatat dalam sejarah, Islam masuk dari Jawa dibawa oleh Khatib Dayan. Dengan masuknya Islam ke Banjarmasin –yang dibawa oleh orang Jawa– mengakibatkan adanya interaksi dua budaya yang berbeda, ini juga yang menjadikan ada beberapa kesamaan antara kedua budaya berbeda ini.

Saat ini kita masih bisa melihat betapa besar pengaruh sungai terhadap kehidupan masayarakat Banjarmasin. Apa Anda pernah berkunjung ke daerah Sungai Andai? Kalau belum cobalah. Ketika memasuki daerah ini Anda akan disambut oleh sebuah jembatan yang lumayan tinggi. Beberapa orang mengatakan jembatan ini “ngeri”, mungkin karena selain tinggi, bahan dari jembatan ini hanya kayu-kayu. Bagi mereka yang merasa ngeri tadi, mungkin muncul pertanyaan dalam benaknya, “Kenapa jembatannya gak direndahin aja? Supaya lebih aman”. Seperti yang kita lihat di bawah jembatan terdapat sebuah sungai yang lumayan lebar dan tidak jarang ada kelotok dan kapal berukuran kecil melintasi sungai itu. Tentunya ada aktivitas penting di situ.

Jembatan, hanya sebuah cara manusia menyikapi perkembangan teknologi sehingga menjadi kebutuhan baru yang harus dipenuhi dan mendesak manusia perlu akan sebuah jembatan. Dulu, jauh sebelum berkembangnya berbagai macam bentuk saran transportasi, yaitu sebelum manusia mengenal yang namaya sepeda tinjak, sepeda motor, dan mobil, jembatan belum menjadi sebuah kebutuhan hidup, bahkan mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Jadi, jembatan sekarang ini seperti kebutuhan hidup yang mesti dipenuhi. Namun, pikiran untuk merendahkan jembatan adalah ide yang akan mematikan aktivitas sungai yang memang sudah minim.

Teknologi, disatu sisi memberikan kenyamanan bagi manusia, tetapi disisi lain menjadi manusia manja, bahakan sampai melupakan teknologi sederhana yang terdahulu.

Kalau kita melihat bagaimana Jepang memanfaatkan keadaan alamnya yang sebagian besar terdiri dari pegunungan, mereka terkenal dengan kereta listrik bawah tanah. Ya. Mereka pandai memanfaatkan keadaan alam. Kenapa kita tidak belajar dari mereka? Ketika mereka dikaruniai Allah SWT lingkungan hidup yang terdiri dari pegunungan dan berada di tengah lautan pasifik, mereka tidak kehabisan akal. Kalau di permukaan bumi terbatas melakukan perjalanan, di bawah tanah pun jadi. Mereka tidak menjadikan hal itu suatu halangan untuk berkembang. di Jepang dikenal yang namanya kereta listrik bawah tanah, luar biasa! Pertanyaanya sekarang, mengapa kita tidak bisa memanfaatkan sungai yang ada di Banjarmasin dengan cerdas, kita malah mengotori sungai kita dengan sampah-sampah yang tidak dapat terurai di air. Hal ini hanya menimbulkan masalah diatas masalah. Ketika musim hujan, banjir pun bertamu, kita tidak hanya dipusingkan oleh yang namanya banjir, tetapi juga dengan sampah-sampah yang meluap…

Nah, kalau orang Jepang dengan keadaan alamnya bisa mendorong mereka menciptakan sebuah sarana transportasi yang efektif sehari-harinya, kenapa kita tidak bisa memanfaatkan sungai kita sebagai sarana transportasi sehari-hari? Tentunya dengan mengaktifkan sungai-sungai yang hampir mati. Saya rasa kalau dikelola dengan serius, hal tersebut akan menjadi sebuah hal baru yang unik. dengan mengalokasikan sedikit dana yang sudah didapat dari hasil alam Kalimantan Selatan yang kaya ini, program mengaktifkan sungai kembali akan sangat membantu rakyat menengah ke bawah dan kita tida perlu lagi berlomba-lomba mengkredit sepeda motor –hanya akan menguntungkan negara lain–, mengurangi pembelian mobil demi mengurangi kemacetan –sebelum jadi seperti jalan di Jakarta–.

Oleh: hanykpoespyta | September 28, 2008

TRADISI LEBARAN HARI KEDUA

Lebaran sebentar lagi,,,

 Sebuah lagu menyambut Hari Raya Idul Fitri. Menjelang  lebaran, berbagai macam persiapan pun dilakukan, mulai dari bersih-bersih rumah, menyiapkan keuh lebaran, merancang masakan lebaran, persiapan pakaian lebaran mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut… menyiapkan parsel, amplop… Wah, pokoknya banyak deh. Capek menuliskanya Baca Lanjutannya…

Oleh: hanykpoespyta | Mei 17, 2008

Komponen-komponen Pendukung Kebangkitan

Berbicara tentang kebangkitan nasional, berarti berbicara tentang usaha suatu masyarakat suatu bangsa untuk keluar dari keterpurukan. Kebangkitan hakiki merupakan cita-cita besar yang untuk mewujudkannya diperlukan kesungguhan dalam mengupayakannya. Kebangkitan adalah Baca Lanjutannya…

Oleh: hanykpoespyta | Mei 17, 2008

BLM FKIP

Seperti halnya BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang sudah pasti ada disetiap fakultas kampus UNLAM, BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) pun merupakan lembaga mahasiswa yang sudah pasti ada disetiap fakultas. Baca Lanjutannya…

Oleh: hanykpoespyta | April 26, 2008

kebudayaan korupsi

Ketika membaca artikel “Kebudayaan Korupsi”, yang saya tangkap adalah adanya kebiasaan melakukan “korupsi” yang terjadi dalam suatu lingkungan masyarakat dalam jangka waktu yang sangat panjang, sehingga tertanam kuat dalam diri setiap anggota masyarakat dan cenderung tidak dirasa sebagai suatu tindak korupsi lagi. Misal seperti yang dicontohkan di atas, tentang seorang ibu Baca Lanjutannya…

Oleh: hanykpoespyta | April 24, 2008

kepribadian

Kepribadian terbentuk dari banyak faktor yang ada disekelilingnya, baik yang sengaja dibentuk dari keluarga maupun dari luar keluarga. Kepribadian yang terbentuk, tidak bisa dilepasakan dari pemahaman yang dibentuk dari pengetahuan yang didapatnya. Pemaaman itulah yang akhirnya mempengaruhi segala tingkah laku seseorang dan perasaan seseorang terhadap suatu hal, itu tidak bisa tidak.

Penyimpangan perilaku seseorang mungkin saja terjadi, bahkan sangat besar kemungkinannya apabila seseorang itu tidak menyaring pengetahuan yang didapatnya melalui proses berfikir yang mendalam dan cemerlang terhadap suatu hal.

Oleh: hanykpoespyta | April 24, 2008

akulturasi

Duh, semakin bingung saja saya dengan bahasan Antropologi ini…

Pada intinya sebelum saya membaca tulisan Anda, saya juga sepaham bahwa kontak pembawa kebudayaan adalah kunci dari kontak kebudayaan. Dari contoh yang Anda tuliskan di atas berarti akulturasi kebudayaan tidak hanya diterima karena kebudayaan itu dianggap penting, tetapi mungkin saja diterima karena pembawa kebudayaan terlalu sering dan gigih menjajakan kebudayaan yang diyakininya.

Contoh dari masa lalu sudah sangat jelas Anda paparkan di atas. Salah satu contoh dari masa kini yaitu Baca Lanjutannya…

Oleh: hanykpoespyta | April 24, 2008

asimilasi

Pada dasarnya setiap terjadinya kontak sosial pasti akan diikuti oleh kontak kebudayaan yang selalu dibawa oleh setiap individunya. Diterima atau tidaknya suatu kebudayaan oleh suatu kelompok dalam daerah tertentu tentu tidak dapat dilepaskan dari seberapa besar manfaat yang dibawa oleh budaya tersebut.

Lantas kenapa mayoritas orang Indonesia , baik yang di kota atau pun yang dipedalaman lebih senang memakai kebudayaan luar atau yang sering kita sebut dengan kebudayaan barat? Pasti karena mereka atau kita merasa bahwa kebudayaan itu ternyata lebih mampu memenuhi kebutuhan kita secara lebih efisien.

Jadi, tidak masalah kebuyaan mana yang melebur (minor/mayor). Selama itu tidak bertentangan dengan keyakinan kita dan bisa mendorong kita kekehidupan yang lebih baik, sah-sah saja…

Oleh: hanykpoespyta | April 19, 2008

MUSIM HUJAN

Musim hujan di Banjarmasin sangat menyedihkan, jalan-jalan jdi becek karena saluran-saluran air yang penuh dengan sampah. Tidak hanya itu, aspal-aspal pun menjadi rusak, bolong-bolong dan tergenang air. Ityu sangat berbahaya. Entah kepada siapa harus mengadu……. Sepertinya sudah tidak ada yang peduli dengan hal itu…….. Baca Lanjutannya…

Oleh: hanykpoespyta | April 19, 2008

Manusia : Antara Pandangan Antropologi dan Agama Islam

a. Manusia : Pandangan Antropologi

Menurut Koentjaraningrat, antropologi adalah “ilmu tentang manusia”. DAlam perkembangannya di Amerika, antropologi dipakai dalam arti yang sangat luas, karena meliputi baik bagian-bagian fisik maupun sosial dari “ilmu tentang manusia”. Pada bahasan selanjutnya akan dikemukakan mengenai manusia dalam pandangan antropologi. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori