Duh, semakin bingung saja saya dengan bahasan Antropologi ini…
Pada intinya sebelum saya membaca tulisan Anda, saya juga sepaham bahwa kontak pembawa kebudayaan adalah kunci dari kontak kebudayaan. Dari contoh yang Anda tuliskan di atas berarti akulturasi kebudayaan tidak hanya diterima karena kebudayaan itu dianggap penting, tetapi mungkin saja diterima karena pembawa kebudayaan terlalu sering dan gigih menjajakan kebudayaan yang diyakininya.
Contoh dari masa lalu sudah sangat jelas Anda paparkan di atas. Salah satu contoh dari masa kini yaitu berkembangnya yang bukan kebudayaan orang Indonesia di Indonesia melalui media cetak atau pun elektronik. Kalau dulu orang Barat menancapkan kekuasaannya dengan kekerasan, sekarang dengang gampang mereka menyebarkan kebuayaan mereka melalui media-media yang mereka kuasai. Akibatnya karena terlalu sering melihat dan berkutat dengan kebudayaan asing banyak orang Indonesia yang lebih enjoy kalau dia mengamalkan kebudayaan asing tersebut. Barat pun tidak perlu susah payah seperti dulu… Kira-kira seperti itu.
