Oleh: hanykpoespyta | Mei 17, 2008

Komponen-komponen Pendukung Kebangkitan

Berbicara tentang kebangkitan nasional, berarti berbicara tentang usaha suatu masyarakat suatu bangsa untuk keluar dari keterpurukan. Kebangkitan hakiki merupakan cita-cita besar yang untuk mewujudkannya diperlukan kesungguhan dalam mengupayakannya. Kebangkitan adalah suatu keadaan yang bebas dan terlepas dari campur tangan pihak lain (yaitu asing, dalam hal ini Barat) dalam segala urusan, baik yang menyangkut kebijakan dalam maupun luar negari. Kebangkitan hanya akan tegak atas pondasi yang kuat yaitu pemikiran yang melandasi masyarakat untuk bangkit. Disini kedudukan kebangkitan adalah sebagai tonggak demi tercapainya suatu kebangkitan. Secara garis besar ada beberapa hal yang perlu diupayakan untuk mencapai pada kebangkitan yang hakiki, yaitu merubah pemikiran yang ada ditengah mayarakat, menyatukan masyarakat dalam suatu ikatan yang sahih dan menumbuhkan keinginan untuk berubah didiri setiap individu.

Kalau kita menoleh kebelakang kita akan mendaoati bahwa ” Perkumpulan Budi Utomo pada tahun 1908 merupakan perkumpulan yang didirikan atas inisiatif pemuda pelajar STOVIA. Pada mulanya perkumpulan betujuan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat yang masih terkebelakang dalam kualitas  hidup seluruh rakyat “Hindia” lewat pendidikan…” (Ahmaddani G., Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa:55). Landasan pemikirannya adalah membawa perbaikan bagi masyarakat Indonesia dari segi pendidikannya. Dengan Landasan pemikiran yang kuat inilah untuk pertamakalinya pemuda Indonesia bangkit.

 Bulan Mei ini tepat seabad kebangkitan nasional bangsa ini, juga bertepatan dengan 10 tahun reformasi. Pelajaran 10 tahun belakangan, perjalanan reformasi ini sejatinya amat gamblang dan mudah untuk disimpulkan. Agenda asing (Barat) telah mendikte perubahan yang terjadi di Indonesia dan terus terulur hingga hari ini. Dimulai dari campur tangan IMF dengan berbagai formula yang dipaksakan menjelang dan awal reformasi dan justru menghancurkan ekonomi negeri ini. Mulai pembekuan bank, pemakasaan swastanisasi BUMN, dengan mejual aset-aset strategis milik negara. Pemretelan kekuasaan Presiden dengan dibentuknya puluhan komisi-komisi dan yang paling vital  adalah perubahan UUD 1945 yang kini berubah 125% menjadi liberalistis. Konsep reformasi seperti ini hanya menjadi “jembatan” menuju kehancuran bangsa Indonesia. (Suara Islam, Mei 2008 : hal. 5). Selain itu, banyak keajaiban-keajaiban dalam hal pengambilan kebijakan oleh pemerintah, mulai dari BHP dalam bidang pendidikan yang jelas semakin mempersulit orang yang ingin sekolah, UU Migas dalam bidang Energi sampai pada penarikan subsidi yang sangat memberatkan rakyat dengan dalih menyelamatkan ekonomi Negara. Ironis, menyelamatkan Negara dengan menjadikan rakyat sebagai tumbalnya. Apa gunanya Negara dengan rakyat yang jauh dari kesejahteraan???

Saat ini pemikiran masyarakat telah dicemari oleh pemikiran asing (Barat) yang merusak kepribadian masyarakat Indonesia, yang mayoritasnya adalah umat Islam. Namun, keislaman itu kini hanyalah kedok. Sebagian besar umat saat ini jauh dari pemikiran Islam. Umat lupa, bagwa hanya dengan Islamlah mayarakat akan benar-benar bangkit dan mampu mempertahankan kebangkitannya. Umat lupa, bahwa kebangkitan terbesar dalam catatan sejarah adalah kebangkitan kaum muslimin Makkah yang dipelopori oleh Rasul Muhammad SAW.

Merubah pemikiran masyarakat

Pembentukkan opini, merupakan salah satu jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah SAW. Dulu ketika di Makkah Rasulullah SAW membina para sahabatnya i rumah Arqam, bin Abi Arqam secara intensif. Sedangkan untuk mengubah kesadaran umat kesadaran dan perasaan kolektif bibutuhkan pembentukka opini umum. Opini yang dibentuk Rasulullah SAW adalah opini yang dibangun di atas pengertian dan pemahaman. Dari sini lahirlah kesadaran masyarakat tentang keburuka realitas yang ada dan dorongan untuk bersama-sama melakukan perubahan dengan penegakkan Islam. Untuk itu, opini yang dikembangkan adalah opini yang memberikan penjelasan tentang kebatilan dan letak kebatilannya, sekaligus menunjukkan ide yang sahih (Islam). (Al wa’ie, Januari 2005: hal 20).

Dengan jalan itulah Rsulullah SAW berhasil mengubah masyarakat jahiliyah Makkah dari mayarakat yang tidak beradab dan biadab menjadi masyarakat yang memiliki tingkat peradaban yang tinggi dan kokoh dengan Islam sebagai landasannya.

Untuk mengubah masyarakat Indonesia yang sedang terpuruk, kita secara bersama-sama harus mengubah segala pemikiran yang terlanjur tertanam dalam hati setiap individu. Kebangkitan yang paling mendasar dan paling penting adalah kebangkitan yang bermula dari pemikiran atau pola fikir masyarakat terhadap kehidupan dan seluruh aspek yang menjadi pokok permasalahan. Dengan mengubah pemikiran masyarakat, maka dengan sendirinya akan mengubah pemahaman masyarakat yang selanjutnya akan mengubah perilaku individu (masyarakat).

Saat ini, masyarakat dipengaruhi oleh pemikiran untuk memisahkan kehidupan umu dengan agama (sekulerisme). Dengan pemisahan tersebutmasyarakat jadi jarang berfikir untuk menggali hukum Islam untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidupnya, baik itu masalah pendidikan, pemerintahan, perekonomian, peradilan dan masalah lain yang behubungan dengan kemsayarakatan. Opini umum yang berkembang dan diyakini saat ini adalah menempatkan fungsi Tuhan hanya pada wilayah pribadi saja yaitu ketika seseorang melakukan ibadah mahdah. Pola fikir seperti inilah yang membuat masayarakat mandeg dan tidak bisa bangkit.

Menyatukan masyarakat dalam suatu ikatan yang sahih

Sepanjang sejarah, perubahan suatu masyarakat selalu didasarkan pada suatu ikatan yang membuat mereka selalu sama dalam gerak. Indonesia bisa merdeka karena ikatan nasionalis, orang-orang Jerman dibawah Hitler hadir dengan dasar Nazisme, Uni Soviet muncul dengan sosialis komunisnya, Islam masa Rasulullah bangkit karena Islam yang diemban dan AS bisa mengusai dunia saat ini karena kapitalismenya. Namun, apakah semua ikatan yang ada itu benar dan bisa dijadikan acuan? Tidak. Beberapa ikatan yang bisa membawa pada perubahan tidak mutlak membawa pada kebangkitan yang hakiki dan diridhai Allah.

Ikatan nasionalisme. Ikatan ini muncul karena adanya sekelompok orang yang tinggal bersama di suatu wilayah. Ikatan ini hanya akan muncul apabila mayarakat di wilayah tersebut mendapat ancaman dari luar. Begitu ancaman hilang, ikatan ini akan luntur dengan sendirinya. Ikatan kesukuan. Ikatan ini muncul pada diri manusia yang pada dasarnya memiliki naluri mempertahankan diri dan kemudian diteruskan dengan perasaan untuk berkuasa atas suku lain. Ikatan ini hanya akan menimbulkan fanatisme golongan. Ikatan kemaslahatan. Ikatan ini terjalin karena adanya peluang tawar-menawar atas sebuah kemaslahatan. Ikatan ini akan hilang dengan sendirinya, manakala sudah tidak ada keuntungan yang dihasilkan dari suatu hubungan. Ikatan kerohanian. Ikatan ini tidak memiliki aturan yang jelas karena aktivitasnya hanya muncul pada kegiatan spiritual saja dan tidak tampak dalam kehidupan sehari-harinya. Ikatan ideologis. Ikatan yang benar untuk mengikat manusia dalam kehidupannya adalah aqidah aqliyah (aqidah/keyakinan yang dicapai melalui proses berfikir) yang melahirkan peraturan hidup secara menyeluruh. Inilah ikatan ideologis, yaitu ikatan yang berasal dari suatu ideologi. Ideologi mana yang pantas dijadikan ikatan? Tentunya Islam, yang dalam catatan sejarahnya telah mampu menyatukan umat muslim di tiga benua dan pernah memimpin dunia selama kurang lebih 13 abad.

Keinginan untuk berubah

Jadi hendaknya ada segolongan umat yang akan menyeru umat yang lain untuk berubah dan bangkit. Tentunya mereka adalah orang-orang yang pemikirannya bersih dari pengaruh pemikiran sekuler. Orang-orang ini yang akan menjadi pemimpin umat atau masyarakat munuju perubahan yang hakiki. Mereka harus mampu menanamkan semangat kebangkitan karena Allah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS.Ar-Ra’d ayat 11).

 


Beri tanggapan

Your response:

Kategori