Lebaran sebentar lagi,,,
Sebuah lagu menyambut Hari Raya Idul Fitri. Menjelang lebaran, berbagai macam persiapan pun dilakukan, mulai dari bersih-bersih rumah, menyiapkan keuh lebaran, merancang masakan lebaran, persiapan pakaian lebaran mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut… menyiapkan parsel, amplop… Wah, pokoknya banyak deh. Capek menuliskanya. Oya, di daerah tempat tinggal ku (kabupaten Paser, Kal Tim) ada kebiasaan—yang aku rasa agak aneh—pergi ke tempat wisata di hari kedua lebaran. Tempat wisata (sebutan yang terlalu bagus) yang senang dikunjungi yaitu sebuah pantai di daerah Tanjung Jumblai (pantai) dan Lempesu (air terjun). Yeah, seenggaknya itu yang ku tahu. Entahlah, apa yang mereka cari. Padahal, tidak semua orang yang berkunjung kesana punya sanak saudara di daerah itu. Pernah saya bertanya pada salah seorang penggemar tempat itu : “Apa sih yang diliat?”. “Ga ada apa-apa, Cuma orang banyak yang berkumpul”. Cukup aneh memang. Namun, kebiasaan itu sudah menjadi tradisi yang sulit ditinggalkan. Orang yang mengunjungi tempat itu terdiri dari semua golongan dan semua umur –anak-anak hingga orang dewasa–. Mereka yang datang mulai dari mobil-mobil pribadi, sepedah motor, truck, pick up, sampai angkutan umum… Bayangkan saja, betapa orang-orang itu cangkal mengunjungi tempat itu. Saya sendiri pengalaman secara langsung belum pernah… Tak berminat, ditambah dengan fisik yang tidak terlalu tahan mencium aroma kendaraan-kendaraan seperti itu, mual. Kalau naik sepedah motor, wah… itu malapahi haja “jar urang banjar”, hasilnya gak ada apa-apa yang didapat selain rekreasi dan kesenangan. Hanya melihat-lihat orang…
Alhasil, jalan raya di depan rumah saya yang biasanya sepi pun menjadi ramai, seperti di kota saja! Hee… Bahkan lebih parah dari pada di kota. Orang-orangnya kebanyakan tidak tahu-menahu aturan lalu-lintas. Wesh, wesh, ngeng, brem, ngeng, brem… Macam-macam lah suaranya, mulai dari yang merdu hingga yang serak dan melengking… Yang jelas sangat bising. Mereka kebanyakan berkendara sangat laju, seolah yang pemilik jalan satu-satunya.. Longkali, ya, itulah mana daerah saya tinggal walaupun hanya pelaluan dan terbilang sepi, tapi juga kecipratan ramai kala itu… Saya saja kadang jadi takut menyebrang jalan dan memilih di rumah bersama keluarga.
Sepulang orang-orang dari tempat itu, biasanya selalu diiringi dengan kisah-kisah mengenaskan sepanjang perjalanan yang tanpa hasil itu. Ada yang sekedar keserempet, ada yang tabrakan –gak jarang sampai mati— (rugi kan kalau meregang nyawa ditempat dan misi yang belum tentu diridho’i Allah), masalah dalam pembayaran angkutan umum yang disewalah… Pokoknya komplit!! Kurang lengkap memang, menuliskan sesuatu yang belum pernah dialami, tapi saya rasa untuk beberapa hal –terutama hal-hal yang kurang penting—kita tidak perlu membuat pengalaman tentang hal itu. Kadang, pengalaman boleh belajar dari orang lain. Toh sebagian besar teman-teman sudah mengalaminya…
Kalau dihubung-hubungkan dengan lebaran, kira-kira nyambung gak? Gak ya! Entah siapa yang memulai tradisi itu… Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri atau suasana Lebaran yang saya fahami adalah saat-saat untuk saling bersilaturahmi kepada saudara dan berbenah diri atas segala kesalahan terhadap orang sekitar atau orang terdekat –dekat dihati–. Bukan diisi dengan aktivitas yang gak jelas tujuanya. Ingat hidup adalah awal dan pasti ada ujung, ujungnya adalah kematian yang bisa tiba kapan pun yang tak terduga.
**Bekerjalah seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadahlah
seakan-akan engkau mati esok** Kira-kira, lebaran tahun ini sama gak yah? Liat ajah ntar. Kalau masih seperti itu, artinya orang-orang di kampung halaman ku tercinta ini gak pernah berubah. Gak maju-maju…

Aslmkm… Mbak Hanik, berelaan lah, aku minta maaf klo selama ini ada salah2, baik yang disengaja ato pun yg nggak disengaja… Minal Aidin Wal Faidzin… Mohon maaf lahir dan batin…
Oleh: Aha on September 29, 2008
at 7:14 am