Setiap masyarakat pasti memiliki kebudayaan yang merupakan hasil karya dari sekumpulan orang-orang yang menetap di suatu daerah. Kebudayaan yang tercipta itu, merupakan respon terhadap keadaan alam suatu daerah dalam rangka mempertahankan hidup. Kebudayaan tercipta sebagai sarana yang akan mempermudah interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya. Kalau kita cermati lebih lanjut, ada satu kebudayaan Banjar –terkait dengan pemaparan sebelumnya– yang hampir tidak ditemui di daerah lain. Pada umumnya, kebudayaan yang dihasilkan oleh suatu daerah memilki perbedaan dengan kebudayaan dari daerah lain. Masyarakat Banjarmasin sangat erat kaitanya dengan sungai, karena daerahnya yang dikelilingi sungai, dari yang kecil sampai yang besar. Alhasil, di Banjarmasin banyak aktivitas manusia yang tidak bisa dilepaskan dari sungai, mulai dari aktivitas rumah tangga dari mencuci, mandi dan buang air. Hal yang juga tidak biasa yaitu banyaknya rumah yang berada di tepi hingga berada di atas sungai. Sampai-sampai berjualan pun dilakukan di sungai. Ya, pasar terapung. Pasar terapung merupakan suatu kebudayaan yang murni dan juga unik. Masyarakat daerah lain mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana cara orang Banjar melakukan transaksi jual-beli? Itu juga yang saya alami sebelumnya, sebelum melihat sendiri bagaimana cara mereka melakukan transaksi tersebut.
Pada masanya, sungai di Banjarmasin mengalami kejayaan. Sungai menjadi sarana transportasi yang sangat efektif untuk menghubungkan seluruh daerah Kalimantan Selatan. Peran sungai juga tidak bisa dipisahkan dari segala perubahan yang terjadi di Banjarmasin dan proses islamisasi masyarakat kota tercinta ini. Seperti yang tercatat dalam sejarah, Islam masuk dari Jawa dibawa oleh Khatib Dayan. Dengan masuknya Islam ke Banjarmasin –yang dibawa oleh orang Jawa– mengakibatkan adanya interaksi dua budaya yang berbeda, ini juga yang menjadikan ada beberapa kesamaan antara kedua budaya berbeda ini.
Saat ini kita masih bisa melihat betapa besar pengaruh sungai terhadap kehidupan masayarakat Banjarmasin. Apa Anda pernah berkunjung ke daerah Sungai Andai? Kalau belum cobalah. Ketika memasuki daerah ini Anda akan disambut oleh sebuah jembatan yang lumayan tinggi. Beberapa orang mengatakan jembatan ini “ngeri”, mungkin karena selain tinggi, bahan dari jembatan ini hanya kayu-kayu. Bagi mereka yang merasa ngeri tadi, mungkin muncul pertanyaan dalam benaknya, “Kenapa jembatannya gak direndahin aja? Supaya lebih aman”. Seperti yang kita lihat di bawah jembatan terdapat sebuah sungai yang lumayan lebar dan tidak jarang ada kelotok dan kapal berukuran kecil melintasi sungai itu. Tentunya ada aktivitas penting di situ.
Jembatan, hanya sebuah cara manusia menyikapi perkembangan teknologi sehingga menjadi kebutuhan baru yang harus dipenuhi dan mendesak manusia perlu akan sebuah jembatan. Dulu, jauh sebelum berkembangnya berbagai macam bentuk saran transportasi, yaitu sebelum manusia mengenal yang namaya sepeda tinjak, sepeda motor, dan mobil, jembatan belum menjadi sebuah kebutuhan hidup, bahkan mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Jadi, jembatan sekarang ini seperti kebutuhan hidup yang mesti dipenuhi. Namun, pikiran untuk merendahkan jembatan adalah ide yang akan mematikan aktivitas sungai yang memang sudah minim.
Teknologi, disatu sisi memberikan kenyamanan bagi manusia, tetapi disisi lain menjadi manusia manja, bahakan sampai melupakan teknologi sederhana yang terdahulu.
Kalau kita melihat bagaimana Jepang memanfaatkan keadaan alamnya yang sebagian besar terdiri dari pegunungan, mereka terkenal dengan kereta listrik bawah tanah. Ya. Mereka pandai memanfaatkan keadaan alam. Kenapa kita tidak belajar dari mereka? Ketika mereka dikaruniai Allah SWT lingkungan hidup yang terdiri dari pegunungan dan berada di tengah lautan pasifik, mereka tidak kehabisan akal. Kalau di permukaan bumi terbatas melakukan perjalanan, di bawah tanah pun jadi. Mereka tidak menjadikan hal itu suatu halangan untuk berkembang. di Jepang dikenal yang namanya kereta listrik bawah tanah, luar biasa! Pertanyaanya sekarang, mengapa kita tidak bisa memanfaatkan sungai yang ada di Banjarmasin dengan cerdas, kita malah mengotori sungai kita dengan sampah-sampah yang tidak dapat terurai di air. Hal ini hanya menimbulkan masalah diatas masalah. Ketika musim hujan, banjir pun bertamu, kita tidak hanya dipusingkan oleh yang namanya banjir, tetapi juga dengan sampah-sampah yang meluap…
Nah, kalau orang Jepang dengan keadaan alamnya bisa mendorong mereka menciptakan sebuah sarana transportasi yang efektif sehari-harinya, kenapa kita tidak bisa memanfaatkan sungai kita sebagai sarana transportasi sehari-hari? Tentunya dengan mengaktifkan sungai-sungai yang hampir mati. Saya rasa kalau dikelola dengan serius, hal tersebut akan menjadi sebuah hal baru yang unik. dengan mengalokasikan sedikit dana yang sudah didapat dari hasil alam Kalimantan Selatan yang kaya ini, program mengaktifkan sungai kembali akan sangat membantu rakyat menengah ke bawah dan kita tida perlu lagi berlomba-lomba mengkredit sepeda motor –hanya akan menguntungkan negara lain–, mengurangi pembelian mobil demi mengurangi kemacetan –sebelum jadi seperti jalan di Jakarta–.
